Strategi Cut-Off Grade: Cara Memilih Angka yang Tepat untuk Deposit Indonesia
Memilih cut-off grade bukan latihan spreadsheet. Ini keputusan yang tergantung pada metode penambangan, harga logam, recovery, dan seberapa jujur model geologi Anda. Begini cara berpikirnya untuk deposit Indonesia.
Saya sering melihat proyek di mana cut-off grade dipilih dalam lima menit selama meeting, diketik ke script estimasi, dan tidak pernah dipertanyakan lagi. Enam bulan kemudian, kurva grade-tonnage terlihat salah, resource overstatement, dan tidak ada yang ingat kenapa memilih 0.5 g/t Au dari awal.
Cut-off grade (COG) adalah angka paling konsekuensial di laporan resource Anda. Salah pilih dan seluruh estimasi resource jadi fiksi — terlalu tinggi, Anda melaporkan ore yang tidak bisa ditambang secara ekonomis; terlalu rendah, Anda membuang meter bor untuk material yang menurunkan grade dan menghancurkan ekonomi proyek.
Postingan ini membahas cara berpikir tentang COG untuk deposit Indonesia, dengan angka nyata dari proyek yang pernah saya kerjakan.
Apa arti cut-off grade sebenarnya
Cut-off grade adalah grade minimum di mana suatu blok material bisa diproses secara ekonomis. Di bawahnya, blok tersebut adalah waste. Di atasnya, blok tersebut adalah ore. Sederhana di teori. Praktiknya, angka tersebut tergantung minimal enam variabel yang saling berinteraksi:
- Harga logam — berapa pasar mau bayar untuk logam Anda
- Biaya tambang — berapa biaya menggali material
- Biaya proses — berapa biaya crush, grind, dan recovery logam
- Recovery metalurgi — persentase logam yang tertangkap plant
- Dilusi — berapa waste tercampur saat penambangan
- Metode tambang — open pit vs underground mengubah segalanya
Rumus dasarnya:
COG = (Biaya Proses + Biaya Tambang) / (Harga Logam × Recovery × 1000)
Tapi rumus ini mengasumsikan semua konstan. Kenyataannya, tidak ada yang konstan.
Konteks Indonesia
Deposit Indonesia punya karakteristik yang membuat pemilihan COG lebih sulit dari textbook:
Profil pelapukan dalam. Sebagian besar deposit emas dan tembaga Indonesia punya tudung lateritik setebal 20-80m. Zona transisi antara oksida dan sulfida sering punya recovery metalurgi yang sangat berbeda — 85% recovery di oksida, 35% di sulfida transisi. Kalau Anda pakai COG tunggal untuk seluruh deposit, Anda要么 over-reporting resource sulfida atau under-reporting oksida.
Topografi curam. Saya pernah kerja di proyek Sulawesi di mana deposit berada di punggung bukit. Biaya tambang material di elevasi 1.200m dua kali lipat biaya material di 900m karena konstruksi jalan angkut. COG tunggal tidak menangkap ini. Anda butuh COG berbasis elevasi atau minimal analisis sensitivitas.
Warisan tambang skala kecil. Banyak deposit Indonesia sudah ditambang sebagian oleh operasi artisanal. Zona high-grade sudah hilang. Yang tersisa adalah material low-grade yang mungkin ekonomis di $1.800/oz Au tapi tidak di $1.650. COG Anda harus mencerminkan apa yang ada di tanah, bukan apa yang ada 20 tahun lalu.
Tiga pendekatan COG
1. Break-even COG (baseline minimum)
Grade di mana revenue sama dengan biaya. Di bawah ini, Anda rugi. Ini lantai Anda — jangan pernah melaporkan resource di bawah break-even COG kecuali ada alasan strategis spesifik (dan disclose).
Untuk proyek open-pit emas Indonesia:
- Biaya tambang: $2.50/t
- Biaya proses: $8.00/t
- G&A: $1.50/t
- Recovery: 85%
- Harga emas: $1.750/oz
COG = ($8.00 + $2.50 + $1.50) / ($1.750 × 0.85 × 31.1035 / 1000)
COG = $12.00 / $46.27
COG = 0.26 g/t Au
Ini minimum absolut. Anda tidak akan pernah pakai ini sebagai COG reporting karena memberikan nol margin error.
2. Operating COG (praktis)
Tambahkan margin — biasanya 15-30% di atas break-even. Untuk contoh di atas, margin 25%:
Operating COG = 0.26 × 1.25 = 0.33 g/t Au
Ini yang dipakai sebagian besar proyek untuk resource reporting. Tapi masih belum menangkap gambaran lengkap.
3. Strategic COG (yang harus Anda pakai)
Ini memasukkan metode tambang, dilusi, dan hubungan grade-tonnage. Pertanyaannya bukan “grade berapa break-even?” tapi “COG berapa memberikan NPV terbaik untuk deposit ini?”
Untuk jawab ini, Anda perlu run multiple estimasi di COG berbeda — 0.3, 0.4, 0.5, 0.6, 0.8, 1.0 g/t — dan plot kurva grade-tonnage. Lalu overlay jadwal tambang dan hitung NPV untuk setiap skenario.
Saya pernah lihat deposit di mana 0.4 g/t memberikan 2M oz di 0.7 g/t rata-rata, tapi 0.6 g/t memberikan 1.2M oz di 1.1 g/t rata-rata — dan skenario 0.6 g/t punya NPV 40% lebih tinggi karena grade lebih tinggi berarti biaya proses per ounce lebih rendah.
Kesalahan umum yang saya lihat
Menggunakan COG dari deposit berbeda. “Proyek sebelah pakai 0.5 g/t, jadi kita juga.” Tidak. Recovery metalurgi, biaya tambang, dan dilusi Anda berbeda. Hitung sendiri.
Mengabaikan recovery per domain. Kalau oksida recovery 88% dan sulfida transisi 45%, Anda butuh COG per domain. COG tunggal akan overstate sulfida atau understate oksida.
Lupa dilusi. Model Anda estimasi grade in-situ. Penambangan mencampur waste. COG 0.5 g/t dengan dilusi 10% di grade nol berarti grade tambang 0.45 g/t — mungkin di bawah break-even aktual.
Tidak update COG saat harga berubah. Emas dari $1.900 ke $1.650 dan kembali ke $1.750 dalam 18 bulan. Kalau COG Anda diset di $1.900, resource Anda overstate di $1.650. JORC 2012 mewajibkan Anda menyatakan asumsi harga. Update.
Menggunakan COG untuk membuat deposit marginal terlihat lebih besar. Saya pernah lihat laporan di mana COG diturunkan dari 0.5 ke 0.3 g/t murni untuk mendorong resource dari ambang “Indicated” ke “Inferred” tonnage. Ini bukan fungsi COG. Market akan tahu saat due diligence.
Workflow praktis untuk deposit Indonesia
- Mulai dengan break-even COG menggunakan biaya saat ini dan harga konservatif (15% di bawah spot).
- Run recovery per domain — jangan pakai angka recovery tunggal untuk deposit dengan zona oksida/sulfida.
- Test 4-5 skenario COG dan generate kurva grade-tonnage untuk masing-masing.
- Overlay metode tambang — COG open pit biasanya lebih rendah dari underground karena biaya tambang per tonne lebih rendah.
- Apply dilusi — 5-15% open pit, 10-20% underground.
- Run NPV untuk setiap skenario kalau ada jadwal tambang. Kalau tidak, pakai COG yang memberikan keseimbangan grade-tonnage terbaik untuk tipe deposit Anda.
- Dokumentasikan semuanya — JORC Table 1 Section 1 mewajibkan disclosure COG dan rasionalnya. “Kami pakai 0.5 g/t” bukan rasional. “Kami pakai 0.5 g/t berdasarkan harga emas $1.750/oz, recovery 85%, total biaya $12/t, dan dilusi 10%” itu rasional.
Intinya
Cut-off grade Anda bukan angka yang Anda pilih. Ini angka yang Anda turunkan, test, dan pertahankan. Untuk deposit Indonesia secara spesifik, interaksi antara profil pelapukan, recovery metalurgi, dan topografi berarti COG tunggal hampir tidak pernah appropriate. Run skenarionya, dokumentasikan asumsinya, dan jujur tentang apa arti angka itu — dan apa bukan.
Geologist yang melakukan ini dengan benar menghasilkan laporan resource yang bertahan due diligence. Yang tidak, menghabiskan tiga bulan re-estimasi saat tim teknis pembeli mulai bertanya.
Part of the Orebit ecosystem —
geological workflow tools for drillhole validation, resource estimation, and JORC/KCMI reporting.
→ Explore GeoSuite
Try the toolkit this article uses.
Orebit GeoSuite — single-file HTML, works offline, no install. From CSV to resource report in one afternoon.
Explore GeoSuite →# From this article: open geosuite.orebit.id load(your_drillhole.csv) apply(workflow_above) # Done. Ship the report.