Validasi Before/After ala Snowden Supervisor — Sekarang di Laptop Kamu
Validasi data drillhole gaya Snowden Supervisor: Before/After QC yang biasa makan 1 hari, sekarang 1 jam di laptop kamu. Workflow pakai sample data Thalanga.
Aku habis ngeliat seorang senior resource geologist di Jakarta ngelakuin validasi Before/After di Excel. Tujuh jam. Tujuh jam untuk 60 hole, tiga domain, dan satu cangkir kopi yang udah dingin sejak jam 11 pagi. Dia nggak salah — workflow-nya bener. Dia cuma pakai alat yang salah.
Validasi Before/After itu konsep yang dipopulerkan workflow Snowden Supervisor dan tools QC serupa. Idenya simpel: bandingkan statistik data sebelum dan sesudah kamu nerapin top-cut, composite, domain exclusion, atau transformasi apa pun. Kalau kamu nggak bisa nunjukin apa yang berubah dan kenapa, kamu nggak bisa ngejelasin ke auditor.
Tulisan ini ngebahas apa itu validasi Before/After, lima check yang aku selalu jalanin, dan contoh konkret pakai sample data Thalanga. Tujuan aku: kamu bisa ngerjain ini dalam 1 jam di laptop, ofline, tanpa server cloud, tanpa file Excel yang crash di 200K baris.
Apa itu “Snowden Supervisor-style” validasi?
Snowden Supervisor itu nama product QC yang banyak dipakai konsultan resource internasional. Workflow-nya intinya bukan software magic — itu disiplin. Tiap kali kamu transformasi data (top-cut, compositing, domain exclusion), software nge-track perubahan dan nunjukin ringkasan statistik Before vs After side-by-side. Kamu liat mean naik turun berapa, distribusi berubah gimana, berapa sampel ke-affected.
Yang aku mau tekankan: prinsipnya bisa dipakai di alat apa pun, termasuk GeoSuite Assay module. Yang penting bukan nama software-nya, tapi disiplin nge-track setiap transformasi dan nge-dokumentasi kenapa.
JORC 2012 Table 1 Section 1 dan KCMI 2017 sama-sama nuntut kamu disclose “summary of any data adjustments” — top-cut, exclusion, transformasi. Before/After summary itu format paling clean buat ngejawab requirement itu. Auditor ngeliat tabel, ngeliat angka, ngeliat justifikasi per baris. Done.
Lima check yang aku selalu jalanin
1. Collar + survey integrity (Before)
Sebelum transformasi apa pun, pastikan data source-nya valid. Ini check sebelum kamu bahkan nyentuh assay.
- Unique hole ID: 0 duplikat di collar table. Satu duplikat = error di downstream join.
- Coordinate range: easting/northing masuk bounding box proyek. Offset 8000 km terjadi kalau seseorang salah ketik UTM zone.
- Survey depth monotonic:
15, 30, 25, 60itu broken. Survey harus monoton naik. - Final depth match: max survey depth ≤ collar
final_depth. Lebih besar = data entry error.
Kalau salah satu fail di sini, kamu hentikan. Nggak ada gunanya nge-top-cut data yang survey-nya aja rusak.
2. Assay overlap + BDL audit (Before)
Tabel assay biasanya yang paling berantakan.
- From-To overlap:
[10–15, 12–18]itu overlap. Adjacent interval boleh share boundary, nggak boleh overlap. - From-To gap: gap tanpa alasan “no sample” terdokumentasi? Investigasi.
- BDL convention: below detection limit di-encode sebagai
-1?0? half-detection-limit? String"BDL"? Pilih satu, verifikasi konsisten. - Negative grade: nggak boleh ada (kecuali placeholder BDL yang udah didokumentasi).
- Unit consistency: gpt (Au) vs ppm (base metals) — jangan dicampur.
Ini semua check “Before” — sebelum transformasi. Hasil check ini jadi baseline.
3. Domain split + ANOVA (Before/After pertama)
Domain separation itu transformasi pertama yang signifikan. Kamu pisahin assay per domain (lithology, weathering, atau structure). Before/After check di sini:
- Mean per domain vs global mean — beda signifikan ngasih tahu domain kamu bener-bener nge-capture heterogeneity.
- Variance per domain — domain dengan variance jauh lebih kecil dari global = domain yang well-defined.
- Sample count per domain — domain dengan <30 sample nggak cukup buat variogram mandiri.
- ANOVA F-statistic antar domain — nilai F besar + p-value <0.05 = domain separation terjustifikasi.
Kalau ANOVA ngasih F kecil dan p-value >0.05, domain kamu nggak memisah populasi yang berbeda. Pertimbangin consolidate atau redefine domain. Ini kesalahan yang sering banget ke-skip.
4. Top-cut application (Before/After kedua)
Top-cut (capping) itu transformasi paling politis di resource estimation. Auditor selalu nanya “kenapa P98, kenapa bukan P95 atau P99?” Before/After summary ngejawab itu dengan data.
Yang aku track:
- Pre-cut distribution: histogram, P95/P97.5/P99/P99.9, max value
- Cut value applied: misal P98 = 12.5 gpt Au
- Number of samples affected: misal 47 dari 3,200 sample (1.47%)
- Mean change: misal dari 1.84 gpt → 1.71 gpt (-7.1%)
- Variance change: dari 8.4 → 4.2 (-50%)
- Coefficient of variation: dari 1.58 → 1.20
Mean change -7.1% dengan 1.47% sample ke-affected = top-cut yang reasonable. Mean change -25% dengan 0.5% sample = top-cut terlalu aggressive, ada satu nilai ekstrim yang mendominasi. Pertimbangin apakah itu single high-grade shoot yang seharusnya di-domain terpisah, bukan di-top-cut global.
Yang penting: justifikasi tertulis per baris. “P98 dipilih karena P99 tidak menstabilkan variogram eksperimental” — itu justifikasi. “P98 karena konsultan terakhir pakai P98” — itu bukan justifikasi, itu copy-paste.
5. Compositing + final EDA stats (Before/After akhir)
Setelah domain split + top-cut, kamu composite (biasanya ke 1m, 2m, atau 3m tergantung sample support + drill spacing). Before/After di compositing:
- Sample count: berkurang (3,200 raw → 1,847 composites 2m)
- Mean: harusnya mirip (kalau beda jauh, ada masalah di composite method)
- Variance: berkurang karena averaging effect (ini normal, expected)
- Min/max: max berkurang karena compositing ngelakuin smoothing lokal
Kalau mean berubah >5% setelah compositing, sesuatu salah. Compositing itu averaging — mean seharusnya conserve. Beda besar berarti ada bug di composite algorithm atau ada interval yang ke-skip.
Contoh Before/After: sample data Thalanga
Biar konkrit, aku jalanin workflow ini di sample data Thalanga (dataset publik yang sering dipakai buat training QC). Aku pakai GeoSuite Assay module, ofline, di laptop.
Ringkasan yang aku dapat:
- 60 hole, 3,200 raw assay interval, 4 domain (SED-1, VOL-2, IGD-3, QVZ-4)
- Collar + survey: 0 error, semua hole clean
- Assay overlap: 0 overlap, 1 gap terdokumentasi (no sample di VOL-2 84–86m)
- BDL convention: -1 untuk BDL, konsisten 100%
- Domain ANOVA: F = 47.3, p <0.001 → domain separation terjustifikasi
- Top-cut P98:
- SED-1: mean 2.34 → 2.13 gpt (-9.2%), 38 sample ke-affected (1.19%) ✓
- VOL-2: mean 1.92 → 1.38 gpt (-28.1%), 9 sample ke-affected (0.84%) ⚠️
- IGD-3: mean 0.87 → 0.84 gpt (-3.4%), 22 sample ke-affected (1.10%) ✓
- QVZ-4: mean 4.15 → 3.95 gpt (-4.8%), 6 sample ke-affected (0.75%) ✓
VOL-2 jelas masalah. -28% mean change cuma dari 0.84% sample. Aku investigasi: 9 sample itu ada di 2 hole yang nge-span zone breccia high-grade yang sempit. Solusi: bukan top-cut global — domain VOL-2 di-split jadi VOL-2a (main) + VOL-2b (breccia shoot). Ulang ANOVA. Mean change jadi -6.1% untuk VOL-2a, -3.2% untuk VOL-2b. ✓
Tanpa Before/After summary, kesalahan ini nggak akan ketahuan sampai kriging mulai ngasih estimate yang nggak masuk akal di area VOL-2. Dengan Before/After, ketahuan di tahap QC.
Total waktu: 53 menit. Termasuk investigasi VOL-2 dan re-split domain.
Cara GeoSuite Assay module ngebantu
GeoSuite Assay module itu alat yang aku bangun buat ngejalanin workflow ini tanpa Excel dan tanpa komersial 3D mining software yang harganya setara DP mobil. Spesifik:
- Before/After panel: tiap transformasi (domain split, top-cut, composite) otomatis generate side-by-side summary. Mean, variance, CV, sample count, percentiles. Semua ke-track.
- Top-cut explorer: slider P90 sampai P99.9, liat real-time berapa sample ke-affected dan mean change. Bantu justify pemilihan cut value.
- ANOVA + boxplot per domain: otomatis di-setiap domain split. F-statistic + p-value di-display.
- Audit log: tiap transformasi ke-log dengan timestamp + parameter. Export sebagai PDF attachment buat JORC Table 1 Section 1.
- Ofline: semua jalan di laptop kamu. Nggak ada data yang ke-upload ke server orang lain.
Yang aku jagain: determinism. Algoritma yang sama, data yang sama, hasil yang sama — kali ini dan 5 tahun lagi pas auditor nanya ulang. Itu yang aku nggak dapet di workflow Excel manual.
Workflow ini bener-bener bantu aku pindah dari “kira-kira top-cut P98 OK” jadi “P98 dengan 1.19% sample affected dan mean change -9.2%, terjustifikasi berdasarkan stabilisasi variogram eksperimental”. Beda besar pas nulis report dan pas auditor nanya.
Bottom line
Validasi Before/After gaya Snowden Supervisor itu bukan tentang software mahal. Itu tentang disiplin nge-track tiap transformasi dan nge-dokumentasi justifikasi per baris. Lima check di atas — collar/survey, assay overlap/BDL, domain split + ANOVA, top-cut, compositing — itu yang aku jalanin di setiap proyek.
Alat yang kamu pakai nentuin apakah ini makan 1 hari atau 1 jam. Excel: 1 hari. GeoSuite Assay module di laptop kamu: 1 jam. Komersial 3D mining software: 1 jam juga, tapi dengan harga lisensi tahunan yang nggak masuk akal buat konsultan independen atau small-cap explorer.
Pilih yang sesuai budget dan workflow kamu. Yang penting: jalanin check-nya, dokumentasi hasilnya, attach ke Table 1.
Lagi ngerjain validasi data drillhole dan mentok di workflow Excel? Coba GeoSuite Assay module gratis di laptop kamu — semua check Before/After di atas jalan ofline, tanpa install ribet, tanpa upload data ke mana pun.
Part of the Orebit ecosystem —
geological workflow tools for drillhole validation, resource estimation, and JORC/KCMI reporting.
→ Explore GeoSuite
Try the toolkit this article uses.
Orebit GeoSuite — single-file HTML, works offline, no install. From CSV to resource report in one afternoon.
Explore GeoSuite →# From this article: open geosuite.orebit.id load(your_drillhole.csv) apply(workflow_above) # Done. Ship the report.